Kamis, 23 Mei 2013

cerpen "Mantan"

Mantan

Masa SMP adalah masa dimana seseorang telah mengalami masa pendewasaan, dimana saat seseorang  merasakan cinta monyet. Empat orang sahabat telah bertemu sejak SMP, dan disaat memasuki SMA mereka semua berpisah sekolah. Eni mendapatkan SMA Negeri di Jakarta, Ida mendapatkan SMA Negeri di Medan, Ila dan Sani melanjutkan di SMK namun dengan jurusan yang berbeda. Mantan pacar Ida yang dulunya satu SMP dengan mereka semua, masuk di sekolah yang sama dengan Eni, SMA Negeri di Jakarta. Mantan pacar Ida itu bernama Widi, dan ternyata Widi dan Eni mendapatkan kelas yang sama. Di saat itu, Eni tidak pernah mengetahui mengapa Ida dan Widi berpisah. Widi dan Eni pun berteman dengan baik, dan rumah mereka tidak terlalu jauh sehingga mereka berangkat ke Sekolah bersamaan.

Ida yang sekarang sudah memiliki pacar baru dari SMA Negeri di Medan, selalu membuat status-status di facebook tentang pacar barunya itu. Semua sahabat Ida senang melihat Ida senang dengan pacar barunya, dan berharap Ida tidak pernah bersedih karena pacarnya itu. Namun, beberapa bulan lamanya mereka pacaran ternyata Ida membuat status-status sedih yang membuat hati sahabatnya Eni menjadi kesal dengan pacar Ida. Muncul pula Widi, sang mantan dari Ida saat SMP yang koment di status Ida itu. Entah siapa yang memulai perang, yang jelas terjadilah suatu keributan di facebook. Pacar Ida mulai berkata-kata kasar kepada Widi, entah berawal dari apa semua keributan ini. Bagaikan perang di dunia maya, balas-membalas perkataan yang tidak pantas. Membuat Eni ikut emosi, dan membela Widi. Widi pun membangga-banggakan pacarnya yang sekarang, begitu pula Ida membangga-banggakan sang pacar yang sekarang. Eni datang bukan untuk membela siapa dengan siapa, tetapi Eni datang hanya sebagai penengah agar tidak berkelanjutan masalah yang sepele dan tidak penting ini. Tetapi respon dari pacar Ida yang berkata kepada Eni, “Apa sih loh, ikut camur urusan orang aja”. Sontak membuat Eni emosi dan emosi pun memuncak terus berkelanjutan. Eni membalas kepada pacar Ida,”Bukan mau ikut campur, tapi aku ga mau melihat sahabatku terus-terusan sedih karena pacarnya yang selalu dibangga-banggakan. Kalaupun sahabat aku bahagia dengan pacarnya, ga akan aku ikut campur seperti ini. Ini aku lakukan karena aku sayang sama sahabatku Ida, yang sekarang pacar kamu itu. Aku juga datang dengan maksud baik, kenapa malah di salahkan seperti ini”.

Yang membuat kekesalan bertambah disaat Ida lebih membela pacarnya dari pada Eni yang jelas-jelas bermaksud baik untuk Ida. Maksud baik seseorang belum tentu dianngap baik oleh orang lain. Ida pun membalas perkataan Eni di facebook, “Ini kan masalah aku ni, ga usah ikutcampur. Urusin aja teman kamu itu si Widi, ajarin omongan yang bener, ngomong sembarangan aja. Lagipula mau aku seneng atau sedih ya itu urusan aku, orang pacar aku juga udah berubah jadi lebih baik. Dan aku ga akan mau nikah kalau bukan sama dia”

Widi pun membalas perkataan Ida, “Udah ni, emang dia sekarang udah berubah malah sama kamu yang sahabatnya sendiri aja dia bisa ngomong begitu. Niat baik kamu malah dibilang ikut campur sama mereka. Udah biarin aja kalau sampai dia ga bisa nikah bareng itu cowo, dia bakalan jadi perawan tua. Omongan dia tuh yang sebenarnya yang ga bisa dijaga. Kaya yakin aja dia jodohnya. Kasian aku ni sama sahabatmu yang satu itu, udah bener-bener berubah banget semenjak pacaran ama tuh cowo.”

Memang benar perubahan itu nyata apa adanya, dulu disaat mereka bersama di SMP. Empat sahabat ini selalu bersama, ke kantin bersama, ke kelas bersama, jalan ke gerbang bersama, semua aktifitas di sekolah dilakukan bersama-sama. Sering sekali mereka pergi ke Mall untuk foto-foto box, makan-makan dan bersenang-senang bersama, tidak pernah berkata jelek sedikitpun, selalu berkata baik dan sopan. Justru disaat ini semua berubah, yang dulunya tidak pernah berkata jelek sedikitpun, sekarang selalu berkata tidak baik dan tidak sopan. Eni berusaha untuk bersabar namun melihat sahabatnya yang sekarang benar-benar berubah hanya karena seorang cowo, Eni berusaha untuk merubah Ida seperti dulu lagi. Ida yang berkata sopan, baik dan tidak pernah berkata jelek terhadap sahabat-sahabatnya. Ila dan Sani hanya bisa diam melihat perang di dunia maya yang Ida dan Eni alami saat ini. Ila dan Sani hanya berharap masalah ini dapat terselesaikan dengan cepat dan keadaan dapat kembali seperti semua seperti layaknya sahabat SMP dulu. Eni pun membalas,”Iya aku tau ini masalah kamu, tapi aku cuma ga mau kamu sedih terus. Kemarin kamu suruh aku omelin cowo kamu karena udah nyakitin kamu dan itu udah aku lakukan buat kamu. Sekarang aku baca status-status kamu yang nangis mulu gara-gara cowo itu ya aku ga bisa diem aja.”

Langsung Ida membalas perkataan Eni,” Udah deh ni diem aja, kamu tuh ga ngerti apa-apa tentang pacaran. Aku yang berpengalaman, kamu belum pernah berpengalaman tentang pacaran, jadi jangan belagu ngerti tentang pacaran deh. Percuma karena aku yang lebih berpengalaman dari pada kamu. Aku udah berapa kali pacaran sedangkan kamu belum, jadi kamu ga ngerti apa-apa tentang pacaran. Belum bisa pacaran aja, udah ngajarin segala. Pacaran dulu sana, biar ngerti”

Kaget rasanya Eni membaca balasan dari sahabatnya itu, tidak pernah menyangka perkataan-perkataan itu dapat keluar dari sahabatnya sendiri. Widi pun membela Eni karena Ida sudah kelewatan berkata seperti itu. Dan pacar Ida ikut membalas dan menjelek-jelekan Eni. Tentu saja hal itu membuat Eni kesal dan semakin emosi membaca balasan-balasan mereka. Akhirnya Eni pun membalas,” Iya,aku memang belum pernah merasakan apa itu pacaran, tapi perlu diinget satu hal. Aku selalu mendengarkan cerita-cerita curahan hati teman-teman semua, sehingga aku dapat mengerti apa itu pacaran dari curahan hati teman. Pacaran bukan berarti membuat seseorang mengerti arti pacaran, pacaran juga dapat dimengerti buat orang-orang yang belum berpacaran seperti aku. Dengan mendengarkan cerita-cerita teman yang berpacaran membuat aku mengerti arti pacaran. Jadi jangan pernah bangga dengan pengalaman pacaran yang banyak. Jusru punya banyak mantan tuh harus malu, karena punya banyak mantan itu sama saja halnya kegagalan yang selalu diulang-ulang tanpa adanya perbaikan untuk selanjutnya. Memang anda bangga dengan semua kegagalan-kegagalan yang sering anda alami selama berpacaran? Seharusnya anda malu bukan dengan kegagalan yang selalu diulang-ulang? Aku belum berpacaran karena aku ga mau banyak kegagalan, aku mau serius dalam pacaran dan berkeinginan pacar pertama untuk terakhir. Maka dari itu ga segampang kamu yang gonta-ganti pacar, karena aku bisa menilai mana yang bisa dibilang baik dan tidak baik. Seharusnya kamu mengerti dari semua kegagalan-kegagalan yang pernah kamu alami. Dari kegagalan itu dapat kamu ambil hikmah untuk di masa nanti. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang ini sama saja mengulang kegagalan yang lalu. Mungkin kamu bangga dengan memiliki banyak mantan pacar, tapi aku justru malu memiliki banyak mantan pacar. Jadi jangan pernah bilang kalau aku tidak berpengalaman, karena bagi aku pengalaman yang sering sahabat aku ceritakan itu bisa menjadi pengalaman dan pelajaran buat aku. Jangan terlalu bangga dengan saat ini sahabat.” Ini balasan Eni untuk Ida, balasan yang sangat panjang untuk menjelaskan dan menyadarkan Ida sahabatnya itu.

Namun sepanjang lebar itupun tak membuat Ida sadar bahwa yang ia katakan itu salah terhadap sahabatnya, sehausnya dia lebih memeningkan Eni sahabatnya tiu dari pada pacarnya. Karena tidak ada yang namanya mantan sahabat, namun untuk mantan pacar ada. Sudah jelas sahabat tidak ada kata mantan begitu pula seperti orangtua, tidak ada yang namanya mantan otangtua. Ida tetap saja memilih dan membela pacarnya dan selalu saja membangga-banggakan pacarnya itu. Kata-kata tidak sopan selalu saja terucap dari sahabat hanya karena cowo. Tentu hal yang sangat menyedihkan mengapa ini dapat terjadi kepada dua sahabat yang dulunya sangat akrab.

Eni berfikir untuk menghapus Ida dari teman facebooknya, agar masalah ini tidak berkelanjutan panjang. Karena kalau saja tidak dihapus mungkin perang dunia maya akan terus berlangsung, dan hal ini tidak diinginkan oleh Eni. Setelah Eni menghapus pertemanan mereka di faceook, tiba-tiba Ida mengirimkan pesan kepada Eni, “Kenapa ni? Ko pertemanan kita di facebook dihapus? Takut? Hahhahahahahaha. Baru banget  pengen aku bales tuh kata-kata kamu, ternyata malah udah ga berteman. Hahahahahahaha. Udah segitu aja bisanya?”

Dugaan Eni ternyata salah, masalah ini tidak selesai dengan menghapus pertemanan di facebook. Eni pun membalas apa yang dibicarakan Ida di pesan itu,” Ya ampun masih aja dilanjutin, udah kali ga usah diperpanjang cuma gara-gara cowo doang. Menghapus pertemanan bukan berarti aku takut sama kamu, tapi aku yang waras mengalah biar masalah ini cepet selesai. Karena waktu aku akan percuma kalau aku ngurusin sahabat yang keras kepala dan ga mau di bilangin baik sama aku. Sekarang terserah kmu mau gimana, aku ga akan ikut campur lagi, entah itu kamu bakalan nikah atau ngga itu masalah kamu. Tapi amu inget satu hal, kalau kamu ga sama dia, berarti kamu jadi perawan tua ya. Hahahahaha. Jangan asal ngomong klo masalah begitu, belum tentu dia odoh kamu. Yaudah aku sibuk, maaf udah ikut campur masalah ini. Makasi atas ejekan dan caci makinya. Semoga semua ini bisa buat aku ebih dewasa ngadepin pikiran anak kecil kaya kamu. Selamat berbahagia.”

Tetap saja Ida beranggapan bahwa Eni takut untuk melanjutkan maslah ini. Dan mereka sahabat yang dulunya dekat menjadi seperti musuh yang selalu saja menjelek-jelekan. Sedih dan sangat disayangkan hal ini terjadi hanya karena seorang cowo. Eni hanya bisa berharap bahwa sahabatnya itu dapat segera sadar dan bisa berubah seperti dulu lagi, bersahabat sebagai mana mestinya.


Setelah beberapa tahun lamanya, Eni berkeinginan untuk mengajak pertemanan lagi dengan Ida dan Ida pun menerima pertemanan itu di facebook. Eni mengawalinya dengan meminta maaf atas kesalahannya semasa itu dan Ida pun juga meminta maaf atas semuanya. Ternyata Ida sudah tidak berpacaran lagi dengan cowo itu. Omngan hanyalah omongan, Ida sudah punya pacar baru dan perkataan dia yang dulu hanya ingin menikah dengan cowo itu hanyalah omongan belaka. Asalkan tidak jadi perawan tua itu tidak masalah bukan? Hanya waktulah yang bisa menjawab semua ini. Widi yang saat itu juga membangga-banggakan pacarnya, ternyata sudah putus hubungan. Apa yang saat dulu dibanggakan mereka ternyata sekarang hanya menjadi mantan, mantan dan mantan. Bodoh sekali kalau dulu pernah terjadi keributan hanya masalah pacar dan menghancurkan sebuah persahabatan yang telah lama terjalin selama SMP itu. Dan bukti pun terungkap, tidak pernah ada kata “mantan sahabat”, tapi yang ada hanyalah “mantan pacar”. Apa yang dahulu pernah dibanggakan oleh masing-masing pasangan ternyata hanya omongan belaka dan tidak dapat bertahan lama sepeti persahabatan. Persahabatan itu suatu yang sangat berharga dan tidak dapat digantikan. Teman boleh saja banyak dari berbagai macam pergaulan, tetapi yang namanya sahabat tidak sebanyak teman, sahabat lebih berarti dari pada hanya seorang teman. Carilah sahabat yang dapat menerima kekurangan dan kelebihan sahabatnya yang lain. Carilah sahabat yang mau selalu bersama disaat suka maupun duka, buka disaat duka dia ada dan disaat duka dia menghilang. Carilah sahabat yang dapat membangunkanmu disaat kamu terjatuh. Carilah sahabat yang dapat membangkitkanmu disaat kamu terpuruk. Mencari sahabat tidak semudah mencari pacar, sahabat harus bisa mendengarkan saran dan kritik dari sahabatnya. Karena seorang sahabat selalu memberikan yang terbaik unuk sahabatnya, saran dan kritik yang membangun dan membuat berubah lebih baik. Sahabat selalu ingin mendengarkan cerita disaat seorang sahabat bersedih. Dan sahabat tidak menginginkan sahabatnya menangis, seperti yang dilakukan Eni kepada Ida. Mantan pacar ada, tetapi mantan sahabat tidak pernah ada. Sahabat tetaplah sahabat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar